10 Fakta Frans Kaisiepo, Pahlawan Nasional Indonesia asal Papua

Frans Kaisiepo dalam uang 10.000 rupiah baru
Please follow and like us:

Frans Kaisiepo merupakan salah satu Pahlawan Nasional asal Papua. Beliau adalah salah satu mantan Gubernur Provinsi Irian Jaya atau yang sekarang disebut Papua.

Beliau adalah salah satu wakil dari Papua dalam Konferensi Malino pada tahun 1946 saat merumuskan sistem Republik di Indonesia.

Beliaulah yang mengusulkan nama “Irian” yang diambil dari bahasa Biak sebagai pengganti nama Papua Barat. Sayang sekali sekarang nama “Irian” sudah digantikan kembali dengan “Papua.”

Namanya memang sangat asing di telinga kita. Tidak sepopuler Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol atau Patimura. Namun beliau tetaplah seorang Pahlawan yang turut andil dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada kesempatan kali ini Sejuta Fakta akan membahas fakta-fakta Frans Kaisiepo yang dipenghujung tahun 2016 ini dijadikan sebagai gambar uang pecahan 10.000 rupiah.

Berikut adalah data dan fakta Frans Kaisiepo yang kami rangkum dari wikipedia.org:

1. Salah satu orang yang pertama menggemakan lagu Indonesia Raya di Papua

Tiga hari sebelum proklamasi kemerdekaan RI, tepatnya pada tanggal 14 Agustus 1945 di Kampung Harapan Jayapura, lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya bergema di Papua. Salah satu orang yang menggemakan lagu tersebut adalah Frans Kaisiepo.

Aksi pro Kemerdekaan RI tersebut berlanjut pada tanggal 31 Agustus, dimana Frans Kaisiepo, Marcus Kaisiepo, Corinus Krey, M. Youwe, serta beberapa intelek Papua yang Pro Indonesia lainnya, mengibarkan Sang saka merah putih diiringi lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya di Papua.

2. Pendiri Partai Indonesia Merdeka

Pada tanggal 10 Juli 1946 dibentuklah Partai Indonesia Merdeka di Biak dengan ketuanya yang bernama Lukas Rumkoren.

Frans Kaisiepo yang saat itu menjabat sebagai Bupati Warsa, Biak Utara, menjadi salah satu penggagas dan pendiri partai tersebut.

3. Satu-satunya keturunan asli Papua yang menghadiri Konferensi Malino

Pada bulan Juli 1946, Frans Kaisiepo mewakili Papua dalam Konferensi Malino di Sulawesi Selatan.

Pada kesempatan tersebut beliau mengusulkan agar nama “Papua” diganti dengan “Irian” sebagai bentuk dukungan terhadap kemerdekaan RI dan bentuk penolakan terhadap pemerintahan Belanda di Papua.

Kata “Irian” diambil dari kosakata bahasa Biak yang berarti “daerah yang panas.”

4. Pemuda Papua yang paling vokal menyuarakan kemerdekaan RI

Frans merupakan orang yang paling keras menolak pembentukan Negara Indonesia Timur karena Papua Barat tidak masuk di dalamnya.

Beliau menyuarakan keinginannya untuk memasukkan Papua Barat sebagai bagian dari Provinsi Sulawesi Utara sebagai bentuk kebulatan tekadnya untuk bergabung dengan Republik Indonesia.

Beliau merupakan salah satu pentolan dalam pemberontakan terhadap Pemerintah Belanda di Biak pada tahun 1948.

Pada tahun 1949 beliau menolak permintaan Belanda untuk menjadi perwakilan dari Netherlands New Guinea (Irian Jaya versi Belanda) dalam Konferensi Meja Bundar.

Akibatnya Frans Kaisiepo dijebloskan ke dalam penjara dari tahun 1954 hingga 1961.

5. Pejuang Kemerdekaan Irian Jaya

Pada tahun 1961, Frans Kaisiepo mendirikan Partai Politik Irian sebagai upaya untuk melepaskan diri dari Belanda dan menyatukan Papua Barat dengan Republik Indonesia.

Pada tahun yang sama, Presiden Soekarno menggemakan Trikora sebagai upaya pembebasan Irian Barat dari Belanda.

Dalam operasi militer pembebasan Irian Barat tersebut Frans sering bertindak sebagai “penyelundup” bagi para tentara RI yang akan menyusup ke Irian.

6. Motor utama bergabungnya Irian Jaya dengan Republik Indonesia

Operasi Trikora yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno membuahkan hasil. Belanda terpaksa menandatangani perjanjian dengan Indonesia.

Perjanjian tersebut menyebutkan bahwa Irian Jaya akan bergabung dengan Indonesia dari tahun 1963 – 1969. Setelah itu Rakyat Irian akan memilih sendiri apakah akan berdiri sendiri atau tetap bergabung dengan RI.

Gubernur pertama Irian Jaya, Elieser Jon Bonay , yang awalnya menyatakan ingin bergabung dengan Republik Indonesia, mulai menyerukan keinginan untuk menjadikan Irian sebagai negara sendiri.

Akibatnya, dia diturunkan dari posisi Gubernur pada tahun 1964 dan digantikan oleh Frans Kaisiepo. Dibawah kepemimpinan Frans, Irian Jaya akhirnya memilih untuk tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia hingga saat ini.

Elieser Jon Bonay yang kemudian pindah ke Belanda, merupakan salah satu pencetus awal berdirinya Organisasi Papua Merdeka yang saat ini kita kenal.

7. Diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1993

Pengangkatan Frans Kaisiepo sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia berdasarkan pada Keputusan Presiden No. 077/TK/1993 dan mendapatkan Bintang Mahaputra Adipradana.

Bintang Mahaputra Adipradana merupakan tanda kehormatan tertinggi No. 2 di Indonesia setelah Bintang Republik Indonesia Adipurna.

8. Nama Frans Kaisiepo dijadikan nama Bandara

Kini nama Frans Kaisiepo dipakai sebagai nama Bandara Internasional di Biak. Dan pada penghujung tahun 2016 ini foto Frans Kaisiepo dipakai dalam pecahan mata uang 10.000 rupiah.

9. Terpilih dari 147 nama pahlawan yang diusulkan oleh masing-masing kantor perwakilan BI

Dikutip dari Bintang, setiap kantor perwakilan BI di Indonesia mengajukan nama pahlawan yang akan dijadikan sebagai gambar pada uang rupiah baru.

Baca juga:  Ini loh 11 Uang Rupiah Baru yang dikeluarkan dipenghujung tahun 2016

Terkumpullah 147 nama Pahlawan yang akhirnya mengerucut menjadi 11 nama. Salah satunya adalah Pahlawan Nasional dari Papua ini.

10. Dipakai pada uang 10.000 rupiah karena pecahan uang tersebut banyak dipakai bertransaksi

Pemilihan foto Frans Kaisiepo sebagai gambar uang rupiah baru pada tahun 2016 ini melalui proses kajian selama 6 bulan antara Kementrian Sosial, Keuangan, dan Sejarahwan, serta ahli warisnya.

Sementara alasan kenapa wajah pahlawan asal Papua ini dipasang pada pecahan 10.000 rupiah adalah karena menurut survey Bank Indonesia pecahan uang 10.000 termasuk yang paling banyak dipakai untuk bertransaksi tunai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *